Sabtu, 08 Februari 2020

Pembelajaran Berbasis WEB (E-Learning)

PEMBELAJARAN BERBASIS WEB (E-LEARNING)
             A.    KONSEP PEMBELAJARAN BERBASIS WEB
Pembelajaran berbasis web merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs (website) yang bisa di akses melalui jaringan internet. Pembeljaran berbasis web atau yang dikenal juga dengan “web Based learning” merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran elektronik (e-learning).
E-learning  tidaklah sama dengan pembelajara konvensial. E-learning memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
     1.  Interactivity (interaktivitas); tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchrounus), seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchrounus), seperti forum, mailing list atau buku tamu.
        2.      Independency (kemandirian); fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa ( student-centered learning).
     3. Accessibility (aksesibilitas); sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di jaringan internet dengan akses yang lebih luas dari pada pendistribusian sumber belajar pada pembelajaran konvensional.
          4.   Enrichment (pengayaan); kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming, simulasi dan animasi.
Keempat  karakteristik di atas merupakan hal yang membedakan e-learning dari kegiatan pembelajaran secara konvensional.
E-learning adalah aktivitas belajar yang menggunakan bantuan teknologi elektronik. E-learning juga dapat diaplikasikan dalam pendidikan konvensional dan pendidikan jarak jauh. Web-based learning merupakan salah satu bentuk learning yang materi (content) maupun cara penyampaiannya (delivery method) melalui internet (web). Berikut adalah beberpa definisi pembelajaran berbasis web :
1.      Any learning experience or environment that ralies upon the internet/word wude web as the primary delivery mode of communication and presentation (http://www/usd.edu). Menyatakan bahwa “setiap pengalaman atau lingkungan belajar yang bertumpu kepada internet/word wide web sebagai sarana penyampaian komunikasi dan presentasi”.
2. E-learning specifically over the internet as opposed to other networks (http://www.onlinedegreezone.com). Bahwa e-learning melalui internet dibandingkan jaringan lainnya.
Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis web adalah sebuah pengalaman belajar dengan memanfaatkan jaringan internet untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi pembelajaran.
            B.     FUNGSI DAN MANFAAT PEMBELAJATRAN BERBASIS WEB
Kruse (dalam Rusman, 2009:117) dalam salah satu tulisannya yang berjudul “using the web for learning” yang dimuat dalam dalam situs www.elearning.com mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis web sering kali memiliki manfaat yang banyak bagi peserta didiknya. Bila dirancang dengan baik dan tepat, maka pembelajaran berbasis web bisa menjadi ppembelajaran yang menyenangkan, memiliki unsure interaktivitas yang tinggi, menyebabkan peserta didik mengingat lebih banyak materi pelajaran, serta mengurangi biaya-biaya operasional yang biasanya dikeluarkan oleh peserta didik untuk mengikuti pembelajaran (contohnya uang jajan/biaya ttransportasi sekolah).
Dikarenakan sifatnya yang maya/virtual, pembelajaran berbasis web dianggap telah memberikan fleksibilitas terhadap kegiatan pengaksesan materi pembelajaran. Penghantaran materi pembelajaran kini tiak lagi tergantung pada medium fisik seperti buku pelajaran cetak atau CD-ROM. Materi pembelajaran kini terbentuk data digital yang bisa di decode (diuraikan) melaui perangkat elektronik seperti computer, smartphone, telepon selular atau piranti elektronik lainnya.
            C.    MEMILIH METODE PEMBELAJARAN BERBASIS WEB YANG SESUAI
Terdapat berbagai macam pembagian pembelajaran berbasis web. Driscoll (Hutagalung,2009:26). Dalam bukunya, Web Based Training Creating e-learning Experience, membagi pembelajaran berbasisi web menjadi empat jenis. Ada dua langkah yang harus dilakukan untuk menentukan metode pembelajaran berbasis web jenis apa yang cocok untuk diterapkan dalam suatu kondisi pembelajaran.
Langkah pertama adalah menentukan terlebih dahulu tipe pembelajaran yang akan disampaikan. Analisis kebutuhan dilakukan pada langkah ini, untuk menentukan ranah mana yang akan disentuh dalam oleh proses pembelajaran ini, apakah kognitif, psikomotor atau afektif.dalam proses pembelajaran web ini mengelompokkan tujun pembelajaran atau pelatihan sehingga pengembangan program dapat mengetahui jenis kemampuan kognitif masing-masing membutuhkan penyampaian informasi, latihan, dan penilaian yang berbeda.
Langkah kedua dari pemilihan proses pembelajaran , adalah memilih tipe pembelajaran berbasis web yang paling penting tepat sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk memilihi tipe pembelajaran berbasisi web mana yang paling tepat, pertama tentukan ranah pembelajaran yang pling merepresentasikan tujuan yaitu, kognitif, tentukan tingkat kemmpuan kognitif dan lihat, apakah termaksud permasalahan belajar highly structured atau ill-structured.
Pada akhirnya review keempat jenis pembelajaran berbasis web tersebut dan pilih berdasarkan ranah pembelajaranan tujuan dari pembelajaran dan tujuan dari pembelajaran yang akan disamapaikan.
            D.    KELEBIHAN DAN KEKURANGN PEMBELJARAN BERBASIS WEB
Sebagaimana media pembelajaran pada umumnya, pembelajaran berbasis web pun memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan.
      1.      Kelebihan Pembelajaran Berbasis Web
            a.       Memungkinkan setiap orang dimana pun, kapanpun, untuk mempelajari apa pun.
            b.      Pembelajaran dapat belajar sesuai dengan karakteristik dan langkahnya dirinya sendiri karena               pembelajaran berbasis web membuat pembelajaran menjadi bersifat individual.
           c.       Kemampuan untuk membuat autan (link), sehingga pembelajaran dapat mengakses informasi              dari berbagai sumber, baik di dalam maupun luar ligkungan belajar.
           d.      Sangat potensial sebagai sumber belajar bagi pembelajaran yang tidak memiliki cukup waktu              untuk belajar.
           e.       Dapat mendorong pembelajaran untuk lebih aktif dan mandiri di dalam belajar.
           f.      Menyediakan sumber belajar tambahan yang dapat digunakan untuk memperkaya materi                      pembelajaran.
           g.      Menyediakan mesin pencari yang dapat digunakan untuk mencari informasi yang mereka                    butuhkan.
            h.      Isi dan materi pelajaran dapat di-update dengan mudah.
Sedangkan menurut Rusman (2009:118), ada lima kelebihan pembelajaran berbasis web yaitu:
      a.       Access is available anytime,anywhere, around the globe (akses tersedia kapanpun, dimana pun,           di seluruh dunia)
      b.      Per-student equipment costs are affordable (biaya operasional setiap siswa untuk mengikuti                 kegiatan pembelajaran enjadi lebih terjangkau).
       c.      Student tracking is made easy (pengawasan terhadap perkembanga siswa jadi lebih mudah). 
       d.    Possible “learning object” architecture supports on demand personalized learning (rancangan            pembelajaran berbasis web memungkinkan dilakukannya kegiatan pembelajaran yang sudah                terpersonalisasi)
       e.    Contentisealy update ( materi pembelajaran bisa diperbarui secara lebih mudah).
                                                                                                                                                               
     2.       Kekurangan Pembelajaran Berbasis Web
            a.       Keberhasilan pembelajaran berbasis web bergantung pada kemandirian dan motivasi                           pembelajaran.
            b.      Akses untuk mengikuti pembelajaran dengan menggunakan web seringkali menjadi masalah                bagi        pembelajaran.
            c.       Dibutuhkan panduan bagi pembelajaran untuk mencari informasi yang relevan, karena                         informasi yang terdapat di dalam web sangat beragam.
            d.     Dengan mengguanakan pembelajaran berbasis web, pembelajaran kadang merasa terisolasi,                 terutama jika terdapat keterbatasan dalam fasilitas komunikasi.
   
            E.     METODE BLENDED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS WEB
Blended Learning adalah metode belajar yang menggabungkan dua atau lebih metodependekatan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan dari proses pembelajaran tersebut. Salah satunya contohnya adalah kombinasi penggunaan pembelajaran berbasis web dan penggunaan metode tatap muka yang dilakukan secara bersamaan didalam pembelajaran. Istilah blended Learning juga dikenal dengan sebutan Hybrid learning dan mixed learning.
Metode Blended Learning memberikan kesempatan bagi peserta pembelajaran online, salah satunya, untuk bertatap muka. Metode blended yang demikian banyak diterapkan utamanya ketika kompetensi yang hendak dicapai adalah keterampilan (psikomotorik) teretntu. Walaupun online learning memberikan kemudahan bagi para pelajar sebagai manusia, tetap memiliki keinginan untuk berada dalam suatu komunitas (dalam hal ini komunitas belajar) yang sesungguhnya, dan hal ini dipandang penting dalam pembelajaran.
             F.     PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN BERBASIS WEB
Hal yang membuat pembelajaran berbasis web ini efektif pada dasarnya bergantung pada pandangan dari pemegang kepentingan. Oleh karena sangat sulit untuk menentukan prinsip utama yang setidaknya harus ada dalam pembelajaran berbasis web (http://www/downes.ca) , di antaranya :
            1.      Interaksi
Interaksi berarti kapasitas komunikasi dengan orang lain yang tertarik pada topik yang sama atau menggunakan pembelajaran berbasis web yang sama. Hal ini berarti bahwa mereka yang terlibat dalam pembelajaran berbasis web tidak berkomunikasi dengan mesin, melainkan dengan orang lain (baik peserta maupun tutor) yang kemungkinan tidak berada pada lokasi bahkan waktu yang sama.                                    
            2.      Ketergunaan
Ketergunaan dimaksuddisini adalah bagaimana siswa mudah menggunakan web. Terdapat dua elemen penting dalam prinsip ketergunaan ini, yaitu konsistensi dan kesederhanaan. Intinya adalah bagaimana pengembangan pembelajaran berbasis web ini menciptakan lingkungan belajar yang konsisten dan sederhana, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan baik dalam proses pembelajaran mupun navigasi konten (materi dan aktivitas belajar lain).
            3.      Relevansi
Relevansi diperoleh melalui ketepatan dan kemudahan. Setiap informasi dalam web hendaknya dubuat sangat spesifik untuk meningkatkan pemahaman pembelajaran dan menghindari bias.
            G.    PEMANFAATAN INTERNET DALAM PEMBELAJARAN
Internet, singkatan dari interconnection and networking, adalah jaringan informasi global. Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa untuk belajar secara mandiri “Through idenpendent study, students becomedoers, as well as thinkers”(Cobine,1997). Para siswa dapat mengakses secara onlie dari berbagai perpustakaan, museum, database, dan mendapatkan sumber primer tentang berbagai peristiwa sejarah, biografi, rekaman, laporan, data statistik, (Gordin et. Al,1995).
Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran memiliki beberapa karekteristik sebagai berikut ;
     1.      Dimungkinkan terjadinya distribusi pendidikan ke semua penjuru tanah air dan kapasitas daya             tampung yang tidak terbatas karena tidak memerlukan ruang kelas.
     2.      Proses pembelajaran tidak terbtas oleh waktu seperti hlnya tatap muka biasa.
     3.      Pembeljaran dapat memilih topic atas bahan ajar yang sesuai dengan keinginn dan kebutuhan              masing-masing.
     4.      Lamanya waktu belajar juga tergantung pada kemampuan masing-masing siswa. 
     5.      Adanya keakuratan dan kekinian materi pembelajaran.
     6.    Pembelajaran dapat dilakukan secara interktif, sehingga menarik siswa, dan memungkinkan pihak       berkepentingan (orang tua siswa maupun guru) dapat turut serta menyukseskan proses                         pembeljaran,  dengan cara mengecek tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara online.
   
            H.    INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Peranan internet dalam organisasi sangat menguntungkan karena kemampuannya dalam mengolah data dengan jumlah yang sangat besar. Menggunakan internet dengan segala fasilitasnya akan memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai informasi untuk pendidikan yang secara langsung dapat meningkatkan pengetahuan siswa bagi keberhasilan dalam belajar. Karena internet merupakan sumber data utama dan pengetahuan. Melalui teknologi ini kita dapat melakukan di antaranya untuk :
    1.      Penelusuran dan pencarian bahan pustaka.
    2.     Membangun program Artificial Intelligence (kecerdasaan buatan) untuk memodelkan sebuah              rencana pembelajaran.
    3.   Member kemudahan untuk mengakses apa yang disebut dengan virtual classroom ataupun virtual       university.
    4.    Pemasaran dan promosi hasil karya penelitian.
Kegunaan-kegunaan seperti di atas itu dapat diperluas bergantung kepada peralatan komputer yang dimiliki jaringan dan fasilitas telepon yang tersedia dan provider yang bertanggung jawab untuk tetap terpeliharanya penggunaan jaringan komunikasi dan informasi tersebut.
            I.       INTERAKSI TATAP MUKA DAN VIRTUAL
Ada tiga alasan mengapa forum tatap muka masih dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran ini. Alasan tersebut adalah :
     1.      Perlunya forum untuk menjelaskan maksud dan mekanisme belajar yang akan dilalui bersama secara langsung dengan semua peserta didik. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran juga ditentukan oleh pemahaman peserta didik tentang apa, mengapa, dan bagaimana proses belajar dan mengerjakan tugas akan berlangsung. Berdasarkna pengalaman menjelaskan maksud dan mekanisme belajar merupakan langkah awal yang sangat vital. Kelancaran proses belajar selanjutnya sangat ditentukan pada tahapan ini.
    2.     Perlunya memberikn pemahaman sekaligus pengalaman belajar dengan mengerjakan tugas secara kelompok dan kolaboratif pada setia peserta didik. Karena model pembelajaran yang dirancang menuntut kerja kelompok maka peserta didik perlu memiliki kompetensi dan komunikasi. Iklim partisipatoris dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan perlu dikenalkan sekaligus dialami oleh setiap siswa. Untuk itu mengenal pribadi satu dengan yang lain perlu dilakukan secara langsung guna membangun suatu kelompok yang kokoh selama kerja secara virtual selanjutnya.
     3.      Perlunya pemberian pelatihan secukupnya dalam menggunakan komputer yang akan digunakan sebagai media komunikasi berbasis web kepada setiap peserta didik. Dengan menyeratkan berbagai kegiatan komputer beserta fasilitas sistem komunikasi pendukungnya, maka setiap peserta didik harus mempunyai keterampilan mengoperasikannya. Kekurang pahaman dalam kemungkinana rendahnya partisipasi mereka dalam berbagai kegiatan diskusi virtual selanjutnya.
           J.      TEKNOLOGI PENDUKUNG E-LEARNING
Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah: Computer Based Learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan Computer Assisted Learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : technology based learning dan technology based web-learningTechnology Based Learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio, tape, voice mail, telephone) dan video information technologies video tape, video text, video massaging). Sedangkan technology based web learning pada dasarnya adalah data Information technologies (bulletin board, Internet, e-mail, telecollaboration).
           K.    PENGEMBANGAN MODEL E-LEARNING
Haughey (Rusman,2007) tentang pengembangan e-learning. Menurutnya ada tiga kemungkinana dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu :
      1.      Web Course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana  mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukn adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penungasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
     2.      Web Centric Course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampiakan melalui internet, dan sebagaian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini dosen bisa memberikan petunjuk pada mahasiswa untuk mempelajari materi perkuliahan melalui web yang telah dibuatnya. Mahasiswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, mahasiswa dan dosen lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui intenet tersebut.
   3.  Web Enhanced Course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, sesame mahasiswa, anggota kelompok, atau mahasiswa dengan nara sumber lain.  Oleh karena itu, peran dosen dalam hal ini dituntu untuk menguasai teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.

           L.     KELEBIHAN DAN KEKURANG E-LEARNING
Petunjuk tentang manfaat penggunaan internet, khusunya dalam pendidikan jarak jauh              (Soekartawi, 2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997), antara lain :
     1.      Tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah            melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan              dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
     2.      Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk ajar atau petunjuk belajar yang               terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa           jauh bahan jar yang dipelajari.
     3.      Siswa dapat belajar atau me-review bahan perkuliahan setiap saat dan di mana saja kalau                     diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di computer.
     4.     Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bagan yang dipelajarinya, ia         dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah.
    5.      Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan               jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah wawasan yang lebih luas.
    6.      Berubahnya peran siswa dari yng biasanya pasif menjadi aktif dan lebih mandiri.
    7.      Relatifnya lebih efisien, misalnya bagi mereka yang tinggal jauh darisekolah atau perguruan                tinggi.
Walaupun demikian, pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (Bullen, 2001, Beam, 1997), antara lain :
    1.      Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri.
    2.     Kecenderungan mengabaikan aspek psikomotorik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong            tumbuhnya aspek komersial.
     3.   Proses pembelajaran cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
    4.    Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga       dituntut mengetahui teknik pembelajaran berbasis pada ICT.
    5.    Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
    6.    Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet atau jaringan.
    7.     Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan mengoperasikan internet.
    8.     Kurangnya personal dalam hal penguasaan bahasa pemrograman computer.

DAFTAR PUSTAKA
Rusman, dkk. 2013. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi: Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta: PT. RajaGrafindo.

Kamis, 27 Juni 2019

Pengertian pembelajaran berbasis TIK

Pengertian Pembelajaran Berbasis TIK Pengertian Pembelajaran Berbasis TIK Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 memuat cita-cita pendidikan bangsa Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, harkat dan martabat seluruh warga negara akan dapat terwujud. Sekolah dan system sekolah sebagai suatu lembaga sosial dan pendidikan dipilih dan ditempatkan di antara system kelembagaan yang telah ada. Fungsi utama sekolah pada awalnya adalah pengajaran, setidak-tidaknya dalam terminology, namun dalam perkembangannya sekolah berfungsi majemuk dengan pendidikan sebagai intinya. Persoalan jumlah dan siapa yang perlu memperoleh pendidikan kiranya cukup jelas, yaitu semua rakyat pembentuk bangsa kita, sedangkan yang perlu dipikirkan dan di usahakan adalah kualifikasi, mutu, kecerdasannya, dan jalan serta cara mencapainya merupakan implikasi pesan utama cita-cita yang diletakkan oleh bapak-bapak pendiri Republik Indonesia dan pengisian pesan tersebut perlu dicari, dikaji, dan terus dikembangkan. Pengertian Pembelajaran Berbasis TIK Metode pembelajaran pada saat ini mulai banyak dikembangkan adalah metode pembelajaran berbasis TIK (teknologi Informasi dan Komunikasi). Hal ini terjadi karena sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta tuntutan dalam dunia pendidikan agar pembelajaran semakin maju, lebih efisien dan efektif sehingga tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Mendayagunakan teknologi komunikasi dan informasi di sekolah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbicara tentang TIK, erat kaitannya dengan pemanfaatan teknologi untuk mengoptimalkan tujuan pembelajaran. Adalah hal yang menarik dan lebih bermanfaat daripada hanya sekedar belajar mendengarkan penjelasan dari guru (teacher center) bila konsep pembelajaran dengan TIK diaplikasikan sesuai dengan fungsionalitasnya. Metode pengajaran satu arah, akan membuat siswa bosan. Guru menerangkan, siswa hanya mendengarkan. Kalau gurunya cukup komunikatif dalam menerangkan, kadang akan membuat siswa semakin termotivasi. Tapi bila siswa monoton dalam menyampaikan materi, sangat memungkinkan kondisi masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Harapan dari sebuah pembelajaran adalah aktivitas yang membuat seorang siswa memiliki pengetahuan atau bahkan membangun sendiri pengetahuannya melalui sumber-sumber ilmu yang sangat beraneka ragam. Beberapa media TIK seperti PC, Internet, Radio, Telepon, Televisi, Printer, LCD Proyektor, Intranet pun sudah banyak kita temukan. Akan tetapi, sudah optimalkah media itu dipakai dalam proses pembelajaran? Mungkin bila dilihat sekilas, media tersebut lebih banyak menawarkan hiburan daripada edukasi. Akan tetapi, dengan berbagai sarana yang ada sangat memungkinkan masa depan TIK di Indonesia akan semakin baik. Dengan banyaknya ahli IT yang concern di dunia pendidikan, dan teknologi yang berkembang dengan cepat tentunya. Apalagi, bila ditunjang dengan kebijakan pemerintah dan berbagai komponen dalam kegiatan pembelajaran yang saling mendukung. Mungkin sekarang masih jauh dari kondisi ideal itu. TIK sebagai solusi pembelajaran pada intinya adalah bagaimana menyajikan materi pembelajaran secara menarik sehingga siswa senang untuk belajar dan bagaimana proses belajar itu tidak dibatasi oleh dimensi ruang maupun waktu. Dimana saja, kapan saja seseorang bisa membangun sendiri pengetahuannya. Berbagai sarana juga bisa disediakan oleh TIK untuk mengukur sejauh mana keberhasilan pembelajaran seseorang. Penyajian materi yang baik bisa menstimulus pembelajar untuk berpikir kritis dan kreatif, mengembangkan pengetahuannya dan mengaplikasikan pengetahuannya secara konkret. Karena dengan pemahaman yang menyeluruh tentang suatu konsep pengetahuan, tidak hanya akan membuat daya ingat semakin kuat tetapi kemampuan siswa untuk problem solving juga akan semakin terasah. Dunia pendidikan termasuk yang paling diuntungkan dari kemajuan Teknologi Informasi (TI) karena memperoleh manfaat yang luar biasa. Mulai dari eksplorasi materi-materi pembelajaran berkualitas seperti literatur, jurnal, dan buku, membangun forum-forum diskusi ilmiah, sampai konsultasi/diskusi dengan para pakar di dunia, semua itu dapat dengan mudah dilakukan dan tanpa mengalami sekat-sekat karena setiap individu dapat melakukannya sendiri. Dampak yang sedemikian luas tersebut telah memberikan warna atau wajah baru dalam sistem pendidikan dunia, yang dikenal dengan berbagai istilah e-learning, distance learning, online learning, web based learning, computer-based learning, dan virtual class room, di mana semua terminologi tersebut mengacu pada pengertian yang sama yakni pendidikan berbasis teknologi informasi. Pengertian Media Pembelajaran Berbasis ICT ( Internet and Communication Technology) Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke–21 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet. Sedangkan media Pembelajaran berbasis ICT adalah alat yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dalam sistem ini interaksi antara pengajar (guru) dan peserta (murid) ajar tidak harus saling bertatap muka (bertemu) secara fisik seperti halnya dalam sistem pendidikan konvensional, mereka bertemu dalam ruang teknologi informasi (internet) dengan memanfaatkan suatu media yang disebut komputer. Beberapa media yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis ICT, adalah: a. Internet Internet adalah media sesungguhnya dalam pendidikan berbasis TI, karena perkembangan internet kemudian muncul model-model e-learning, distance learning, web base learning, dan istilah pendidikan berbasis TI lainnya. Internet merupakan jaringan komputer global yang mempermudah, mempercepat akses dan distribusi informasi dan pengetahuan (materi pembelajaran) sehingga materi dalam proses belajar mengajar selalu dapat diperbaharui. Sudah seharusnya dalam penerapan pendidikan berbasis TI tersedia akses internet. b. Intranet Apabila penyediaan infrastruktur internet mengalami suatu hambatan, maka intranet dapat dijadikan alternatif sebagai media pendidikan berbasis TI. Karakteristik intranet hampir sama dengan internet, hanya saja untuk area lokal (dalam suatu kelas, sekolah, gedung, atau antar gedung). Model-model pembelajaran sinkron dan tidak sinkron dapat dengan mudah dan lebih murah dijalankan pada intranet. Pada kondisi-kondisi tertentu intranet justru dapat menjadi pilihan tepat dalam menerapkan pendidikan berbasis TI. c. Mobile Phone Pembelajaran berbasis TI juga dapat dilakukan dengan menggunakan media telpon seluler, hal ini dapat dilakukan karena kemajuan teknologi telpon seluler yang pesat. Seseorang bisa mengakses materi pembelajaran, mengikuti pembelajaran melalui telpon seluler. Begitu canggihnya perkembangan teknologi ini sampai memunculkan istilah baru dalam pembelajaran berbasis TI yang disebut M-learning (mobile learning). d. CD-ROM/Flash Disk Media CD-ROM atau flash disk dapat menjadi pilihan apabila koneksi jaringan internet/intranet tidak tersedia. Materi pembelajaran disimpan dalam media tersebut, kemudian dibuka pada suatu komputer. Pemanfaatan media CD-ROM/flash disk merupakan bentuk pembelajaran berbasis TI yang paling sederhana dan paling murah. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran Berbsis ICT Internet and Communication Technology (ICT) memilliki tiga fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu (1) teknologi berfungsi sebagai alat (tools), untuk membantu pembelajaran, misalnya dalam mengolah kata, (2) Teknologi berfungsi sebagai ilmu pengetahuan(science), (3)Teknologi berfungsi sebagai bahan dan alat bantu untuk pembelajaran(literacy). Dalam hal ini teknologi dimaknai sebagai bahan pembelajaran sekaligus sebagai alat bantu untukmenguasai sebuah kompetensi berbantuan komputer. Dalam hal ini posisi teknologi tidakubahnya sebagai guru yang berfungsi sebagai: fasilitator, motivator,transmitter, dan evaluator. Sebagai bagian dari pembelajaran, teknologi/ICT memiliki tiga kedudukan, yaitu sebagaisuplemen, komplemen, dan substitusi (Riyana, 2008). Moldstad (dalam Harsya W Bachtiar, 1984) menyatakan bahwa media pembelajaran berbasis ICT dalam proses pembelajaran akan dapat menimbulkan kondisi-kondisi positif, seperti : Belajar lebih banyak terjadi jika media diintegrasikan dengan program instruksional yang tradisional. Jumlah belajar yang setara sering dapat tercapai dalam waktu yang lebih singkat dengan menggunakan teknologi instruksional. Program instruksional dengan menggunakan berbagai media yang didasarkan pada suatu pendekatan sistem, seringkali memudahkan siswa dalam belajar secara lebih efektif. Program-program multimedia dan atau tutorial audio untuk pembelajaran biasanya lebih disukai siswa bila dibandingkan dengan pengajaran tradisional. Dikutip dari; Rahmanriadi.blogspot.com Tgl 27/6/2019 jam 11.05

Rabu, 16 Desember 2015

Rangkuman Materi Dasar-dasar Pendidikan

HAKIKAT MANUSIA
1.       Tidak ada fakta sejarah yang bisa menunjukkan asal muasal manusia
2.     Informasi tentang penciptaan manusia berasal dari kitab suci maupun dari pemikiran filosofis yang  bersifat spekulatif.
3.     Kepribadian manusia terdiri atas aspek jasmani yang berupa materi dan aspek rohani yang berupa    immateri.
KEBUTUHAN DAN PENGEMBANGAN DIMENSI KEPRIBADIAN MANUSIA
1.      Kebutuhan manusia baik laki-laki maupun perempuan terdiri atas kebutuhan fisik, seperti: makan dan minum, serta kebutuhan psikis seperti: rasa aman, penghargaan, aktualisasi diri, dan kebutuhan agama.
2.    Pengembangan aspek fisik dapat dilakukan melalui pendidikan yang didapat dari interaksi manusia dengan lingkungan materi maupun lingkungan sosial. Adapun pengembangan aspek psikis yang paling dalam adalah melalui renungan batin untuk mendapatkan pengalaman dari alam yang tidak berdimensi.
KEBUTUHAN DAN PENGEMBANGAN DIMENSI KEPRIBADIAN MANUSIA
1.    Pendidikan dalam arti yang luas adalah  segenap kegiatan manusia baik yang disengaja atau diciptakan maupun yang muncul dengan sendirinya kapan pun dan dimanapun sepanjang hayat, yang dapat memberikan pendewasaan kepada manusia (pendidikan adalah hidup dan hidup adalah pendidikan)
2.  Pendidikan dalam arti yang sempit adalah kegiatan yang disengaja yang khusus dilakukan dan direncanakan untuk tujuan tertentu dalam situasi tertentu dan pada waktu yang terbatas.
3.     Pendidikan dalam definisi alternatif adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah baik formal, nonformal maupun informal dan dilakukan seumur hidup untuk mengoptimalkan potensi manusia.
4.       Ilmu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari teori-teori pendidikan baik sebagai ilmu normatif, teoretis maupun ilmu praktis.
5.       Driyarkara (1980) menjelaskan bahwa ilmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah, yakni pemikran yang bersifat kritis, memiliki metode, dan tersusun secara sistematis tentang pendidikan.
KOMPONEN, FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN
1.       Komponen pendidikan meliputi: tujuan, peserta didik, pendidik, alat dan lingkungan.
2.  Fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian, serta peradaban yang bermartabat dalam hidup dan kehidupan.
3.       Tujuan pendidikan dibedakan menjadi 6 (enam) yakni:
(1)    Tujuan umum
(2)    Tujuan khusus
(3)    Tujuan tidak lengkap
(4)    Tujuan sementara,
(5)    Tujuan intermidier, serta
(6)    Tujuan insidental
LANDASAN-LANDASAN PENDIDIKAN
Landasan-landasan pendidikan sangat penting untuk mengembangkan pendidikan yang bermartabat bagi pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan memahami dan mengaktualisasikan landasan-landasan itu, manusia akan memiliki harkat dan martabat sangat mulia dibandingkan hewan dan tumbuhan bahkan malaikat sakalipun, sebab manusia diberi keunggulan oleh Allah SWT berupa hati nurani dan akal pikiran. Untuk memperoleh harkat dan martabat mulia itu diperlukan landasan-landasan pendidikan yang kuat dan senantiasa dikembangkan agar menjadi lebih baik. Landasan-landasan pendidikan meliputi:
1.       Landasan agama (religius)
2.       Landasan filosofis
3.       Landasan psikologis
4.       Landasan historis
5.       Landasan sosiologis dan budaya (sosiokultural)
6.       Landasan hukum (yuridis)
7.       Landasan ekonomi
8.       Landasan ilmiah dan teknologi

ASAS-ASAS PENDIDIKAN
1.   Asas pendidikan merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan
2.       Asas-asas pendidikan yaitu:
(1)    Asas Tut Wuri Handayani
(2)    Asas belajar sepanjang hayat
(3)    Asas kemandirian belajar.
3.    Asas Tut Wuri Handayani merupakan konseptualisasi asas perguruan nasional Taman Siswa sebagai perjuangan untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda.
4.   Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator disamping peran-peran seperti informator, organisator dan sebagainya.

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN
1.   Aliran empirisme berpendapat bahwa anak lahir ke dunia tidak mempunyai bakat dan kemampuan. Aliran ini berpendapat bahwa faktor keturunan tidak dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak. [Tokoh: John Locke]
2.  Aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Menurut nativisme pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. [Tokoh: Schopenhauer, filsuf Jerman 1788-1880]
3.   Aliran naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia membawa dan mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan sehingga aliran naturalisme sering disebut negativisme. [Tokoh J.J. Rousseau, 1712-1778]
4.     Aliran konvergensi mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting.[Tokoh: Willian Stern, tokoh pendidikan Jerman {1871-1939}].
5.    Aliran progresivisme mempunyai pandangan bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya. [Tokoh: John Dewey]
6.     Aliran konstruktivisme mempunyai pandangan bahwa pengetahuan mutlak yang diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang, memiliki pengalaman yang diterima lewat pancaindra, yaitu penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan perasa. Aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang lain, aliran ini beralasan bahwa pengetahuan bukan barang yang dipindahkan, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk mentransfer ilmu, maka perbuatan itu akan sia-sia. [Tokoh: Giambatista Vico, epistemiolog Italia].
Kemudian dikembangkan oleh Jean Piaget. Melalui teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya. Pengetahuan merupakan suatu proses, bukan suatu barang. Menurut Piaget, mengerti adalah proses adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru dengan penegtahuan yang telah dimilikinya, sehingga dapat terbentuk penegrtian baru (Paul Suparno, 1997:33).
Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif di pengaruhi oleh tiga proses dasar, yaitu:
1.    Asimilasi = perpaduan data baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki.
2.    Akomodasi = penyesuaian struktur kognitif terhadap situasi baru.
3.    Ekuilibrasi = penyesuain kembali yang secara terus menerus dilakukan antara asimilasi dan akomodasi (Suwardi, 2004:24).

TEORI DAN PILAR PENDIDIKAN
Teori pendidikan merupakan landasan dalam pengembangan praktik-praktik pendidikan (pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar dan manajemen sekolah). Kurikulum dan pembelajaran memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan, karena suatu kurikulum dan rencana pembelajaran disusun dengan mengacu pada teori pendidikan.

Ada 4 teori pendidikan, yaitu:
1.       Pendidikan klasik,
2.       Pendidikan personal,
3.       Teknologi pendidikan, dan
4.       Pendidikan interaksional.
Sedangkan UNESCO merekomendasikan 5 pilar pendidikan yang dapat digunakan sebagai prinsip pembelajaran yang bisa diterapkan di dunia pendidikan. 5 pilar tersebut adalah:
1.     Learning to do (bukanlah pembelajaran yang hanya menumbuhkembangkan kemampuan berbuat mekanis dan keterampilan tanpa pemikiran; tetapi mendorong peserta didik agar terus belajar bagaimana menumbuhkembangkan kerja, juga bagaimana mengembangkan teori atau konsep.
2.     Learning to be (menuntun peserta didik menjadi ilmuan sehingga mampu menggali dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam hidup bermasyarakat sebagai hasil belajarnya).
3.     Learning to live together (mengajarkan untuk hidup bermasyarakat dan menjadi manusia berpendidikan yang bermanfaat baik bagi diri sendiri dan masyarakatnya maupun bagi seluruh umat manusia.
4.       Learning to know (bukan sebatas proses belajar mengajar, dimana peserta didik mengetahui dan memiliki materi informasi sebanyak-banyaknya, menyimpan dan mengingat, namun juga kemampuan untuk dapat memahami makna dibalik materi ajar yang telah diterimanya).
5.     Learning how to learn (proses belajar tidak boleh berhenti begitu saja meskipun seorang pembelajar telah menyelesaikan sekolahnya. Pilar ini akan membawa peserta didik pada kemampuan untuk dapat mengembangkan strategi dan kiat belajar yang lebih independen, kreatif, inovatif dan efisien, dan penuh percaya diri, karena masyarakat adalah learning society atau knowledge society. Orang-orang yang mampu menduduki posisi sosial yang tinggi dan penting adalah mereka yang mampu belajar terus-menerus.

LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Organisasi atau kelompok manusia yang karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan bertugas memberi pendidikan kepada peserta didik.

Fungsi lingkungan pendidikan:
ü Membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya dan berbagai sumberdaya pendidikan yang tersedia.
ü Mengajarkan tingkah laku umum dan untuk menyeleksi serta mempersiapkan peranan-peranan tertentu dalam masyarakat.
Lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu memengaruhi tingkah laku, pertumbuhan, perkembangan dan life processes.
Lingkungan pendidikan haruslah digambarkan sebagai kesatuna yang utuh di antara berbagai ragam bentuknya.
Lingkungan pendidikan meliputi :
ü Keluarga              
ü Sekolah
ü Masyarakat
Lembaga pendidikan kemasyarakatan dapat mengambil bentuk dalam berbagai wadah seperti:
ý Masjid, surau atau langgar, musholla
ý Madrasah, pondok pesantren
ý Pengajian / majelis taklim
ý Kursus-kursus
ý Badan-badan pembinaan rohani (biro pernikahan, biro konsultasi keagamaan dlsb).

KETERKAITAN ANTAR LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Hubungan antara keluarga dan sekolah terjadi pada kerjasama orang tua dengan pihak guru. Kerjasama tersebut dibutuhkan untuk memantau kemajuan anak dalam proses pendidikan, baik kemajuan dalam ranah intelektual maupun psikologis.
Bentuk kerjasama antara keluarga dengan sekolah diantaranya sebagai berikut:
ý Kunjungan pihak sekolah (guru) ke rumah peserta didik
ý Kunjungan orang tua ke sekolah
ý Case Conference (rapat atau konferensi tentang kasus tertentu yang berkaitan dengan proses yang ada di sekolah dan keluarga {bimbingan dan konseling})
ý Badan pembantu sekolah (organisasi atau lembaga orang tua peserta didik dan guru untuk menjalin kerjasama secara terorganisasi antara keduanya)
ý Daftar nilai atau raport

Sedangkan kontribusi yang diberikan sekolah kepada masyarakat meliputi:
Ø Mencerdaskan kehidupan bangsa
Ø Memberikan pengaruh perubahan bagi perkembangan masyarakat
Ø Melahirkan masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat
Masyarakat sendiri memberikan pengaruh terhadap sekolah pada hal-hal berikut:
Ø Orientasi dan tujuan pendidikan
Ø Proses pendidikan di sekoah
Kontribusi lingkungan masyarakat terhadap pendidikan bagi anak antara lain:
Ø Peserta didik akan mendapatkan pengalaman langsung (first hand experience), artinya mereka dapat memiliki pengalaman yang konkret dan mudah diingat.
Ø Dalam masyarakat terdapat banyak sumber belajar yang tidak dimiliki sekolah ataupun keluarga (Hasbullah, 2003)
Sedangkan fungsi sekolah bagi masyarakat adalah sebagai berikut:
ü Sekolah sebagai mitra masyarakat dalam menjalankan fungsi pendidikan
ü Sekolah sebagai produsen yang melayani pesanan-pesanan pendidikan dari masyarakat.

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Terjadinya perbedaaan konsep pengertian pendidikan nasional antara UUSPN No. 2 Tahun 1989 dan UUSPN No. 20 Tahun 2003 lebih banyak disebabkan oleh konteks dinamika perkembangan masyarakat dan dunia yang terus berubah. Persoalan agama dan tuntutan perkembangan jaman sebagaimana dirumuskan dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 (dimana masalah tersebut tidak dirumuskan didalam UUSPN sebelumnya) menunjukkan keinginan kuat bangsa Indonesia untuk bersikap fleksibel dan akomodatif terhadap perkembangan dan kebutuhan yang melingkupi. Dalam perspektif ini, pendidikan nasional sebenarnya sudah mencerminkan sebuah visi yang cukup bagus untk mengantar bangsa dan negara Indonesia menuju kehidupan yang semakin berkualitas. Sekalipun karena disebabkan beberapa distorsi pada tataran aplikasi praksis keinginan yang cukup visioner tersebut pada akhirnya kandas di tengah jalan.
Dari sudut konsep, pengertian sisdiknas antara rumusan UUSPN No. 2 Tahun 1989 dan UUSPN No. 20 Tahun 2003, tidak ada perbedaan yang prinsip. Perbedaan ini justru terjadi pada penafsiran terhadap keduanya. Sisdiknas hasil rumusan UUSPN No. 2 Tahun 1989 menghasilkan sisdiknas yang sentralistis, sehingga berakibat penyeragaman dan terkesan paket kebijakan dari atas (pemerintah) yang tidak lagi bisa ditawar. Karenanya, pendidikan yang mestinya melakukan pembebasan dan pencerahan berbalik arah menjadi pendidikan yang membelenggu dan membodohkan. Sementara sisdiknas hasil rumusan UUSPN No. 20 Tahun 2003 sudah lagi ditafsirkan sebagai sisdiknas yang sentralistik, tetapi bersifat desentralistik. Sayangnya, peraturan operasional yang mengatur implementasi sisdiknas yang bersifat disentralistis ini, meliputi cara penegelolaan, mekanisme peranan daerah dan pusat, serta dampak-dampaknya belum terbahas secara tuntas. Dipicu kenyataan ini, akhirnya sampai akhir ini pun belum mampu memberikan solusi yang solutif untuk mengentas bangsa dan negeri ini keluar dari keterpurukan dan kehancuran.
Agar permasalahan sisdiknas ternyata cukup beragam dan kompleks. Secara garis besar seluruh permasalahan sisdiknas tersebut dikelompokkan dalam dua kelompok besar.
ü Konteks historis sisdiknas yang lebih menekankan pada kepentingan pemerintah (melestarikan status quo kekuasaan) terpaksa harus melahirkan pendidikan yang sentralistis. Dengan atas nama keutuhan dan keselamatan negara seluruh kegiatan pendidikan dibalut dalam logika tersebut. Karenanya, pendidikan justru melahirkan para peserta didik yang tidak lagi memiliki kebebasan berfikir dan berkreasi.
ü Masalah penerapan sisdiknas yakni bersifat sentralistis dan seragam. Lagi-lagi  masalah ini terulang lagi di era reformasi seperti ini. Permaslahan aturan main tentang upaya disentralisasi pendidikan serta hal-hal terkait dengannya yang belum jelas atau gamang, ternyata menjadi pemicu utama terjadinya hal ini. Karena itu, perubahan sisdiknas harus segera dilakukan agar tujuan bangsa dan negara Indonesia menggapai peradaban unggul segera terwujud.
Paradigma pendidikan nasional Indonesia membutuhkan sentuhan pemikiran berbagai pihak, agar proses pendidikan ke depan bangsa ini bisa menemui kebermaknaan. Paradigma sinergisitas adalah sebuah alternatif yang dimungkinkan layak bisa dipakai untuk mengkritisi penerapan sisdiknas selama ini sekaligus bahan pemikiran untuk menggagas paradigma pendidikan nasional yang membangun.
Dalam dataran filosofis, pendidikan nasional menjadi obyek perebutan berbagai pihak, sehingga muncul tiga kelompok yaitu:
(1)      Kelompok yang menajdikan pendidikan sebagai sistem
(2)      Kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai tujuan, dan
(3)      Kelompok yang menjadikan pendidikan sebagai proses.

SISTEM KELEMBAGAAN DAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN NASIONAL
Pendidikan nasional dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik dalam bentuk sekolah maupun dalam bentuk kelompok belajar (dalam Bahasa UUSPN No. 2 Tahun 1989 atau memalui pendidikan formal, non formal, dan informal (dalam bahasa UUSPN No. 20 Tahun 2003).
Dalam UUSPN No. 2 Tahun 1989 disebutkan bahwa penyelenggaraan sisdiknas dilaksanakan melalui 2 jalur, yaitu:
(1)      Jalur pendidikan sekolah
(2)      Jalur pendidikan luar sekolah (PLS)
Ciri-ciri jalur pendidikan formal:
(1)      Sifatnya formal,
(2)      Diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah, dan
(3)      Mempunyai keseragaman pola yang bersifat nasional.
Ciri-ciri jalur pendidikan formal:
(1)      Sifatnya tidak formal
(2)      Modelnya sangat beragam
Ada 3 jenjang pendidikan dalam sisdiknas, yakni:
(1)      Jenjang pendidikan dasar,
(2)      Jenjang pendidikan menengah, dan
(3)      Jenjang pendidikan tinggi

Jenis dan bentuk pendidikan nasional
Program pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas:
(1)      Pendidikan umum,
(2)      Pendidikan kejuruan, dan
(3)  Pendidikan lainnya (pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan dan pendidikan keagamaan).
Pengelolaan kelembagaan sisdiknas terlalu disibukkan oleh berbagai perubahan kebijakan pendidikan yang ujung-ujungnya merubah atau merekonstruksi kebijakan lama dan berkutat pada aktivitas itu. Sementara di wilayah praksis pengelolaan kelembagaan pendidikan nasional masuh menemui kendala-kendala berikut:
ý Manajemen pengelolaan lembaga pendidikan yang belum sistemik, total dan mendasar
ý Belum adanya budaya mutu
ý Kurang adanya relevansi dengan dunia luar, dan
ý Kurangnya akses dengan lembaga-lembaga pendidikan dalam skala internasional hingga menyebabkan kurangnya informasi dan akses di bidang pengembangan keilmuan dan kependidikan
Sementara pengelolaan madrasah sebagai subsistem dari sisdiknas yang sangat diharapkan akan melahirkan bangsa yang cendikia-islami ternyata juga belum mampu mengelola sistem kelembagaan internalnya disebabkan persoalan-persoalan yang kompleks dan rumit, mulai dari persoalan SDM yang masih rendah, dana yang sangat kecil, manajemen yang tidak profesional.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN
Pemerataan pendidikan adalah persoalan yang terkait dengan pelaksanaan sistem pendidikan yang dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada warga negara dalam memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan menjadi wahana bagi pembagunan sember daya manusia dalam menunjang pembangunan suatu bangsa.
Mutu pendidikan adalah keluaran atau hasil lembaga pendidikan. Mutu pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk. Pertama, mutu produk pada lambaga pendidikan meliputi hal-hal seperti bahan ajar, jumlah lulusan, presentase kelulusan ujian, alumni yang mengikuti studi lanjut, alumni yang mendapatkan pekerjaan atau promosi. Kedua, mutu proses terkait dengan hal-hal seperti proses pembelajaran, bimbingan bagi peserta didik, konseling, dan koordinasi pengembagnan bahan ajar dan bahan ujian, jaringan kerja dengan kantor regional di berbagai daerah, sistem registrasi, pengelolaan sistem informasi peserta didik, produksi bahan ajar multimedia, produksi bahan ujian, penjadwalan tutorial, layanana bantuan belajar, distribusi bahan ajar, dan penyiaran melalui media massa.
Efisiensi pendidikan adalah apabila hasil yang dicapai maksimal, dengan biaya yang wajar, karena biaya merupakan ukuran efisien dalam proses pendidikan terutama apabila dalam proses pendidikan dapat menghasilkan output pendidikan dengan biaya yang efisien.
Relevansi pendidikan dalah kesesuain program pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dengan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna atau stakehoulder pendidikan, artinya apa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan dapat dinikmati hasilnya oleh masyarakat atau tepat guna.

  
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA MASALAH PENDIDIKAN
Pendidikan memgang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kulitas sumber daya manusia itu sendiri.
Permaslahan pendidikan dapat dilihat dari sudut pandang yang saling terkait dalam implementasinya, yaitu:
1.    Masalah makro pendidikan yang terdiri atas : standarisasi pendidikan, persamaan, pemerataan dan berkeadilan, standar mutu, kemampuan bersaing.
2. Permasalahan mikro pendidikan yang terdiri dari: kualitas manajemen, pemberdayaan satuan pendidikan, profeionalisme dan ketenagakerjaan dan relevansi pendidikan.
2 faktor utama yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:
1.    Strategi pembangunan pendidikan selama ini bersifat input oriented
2.    Pengelolaan pendidikan lebih bersifat macro-oriented